Empat Tahun di Blockchain Steem dan atau Hive

in Qurator7 months ago


Tanda jalur pengunjung di Tunjungan Plaza Surabaya

Sudah lebih dari dua minggu tidak menulis di blog yang ada di Steem atau Hive, sejujurnya penyebabnya adalah memang karena sedikit enggan dan malas untuk menulis. Tidak ada topik yang menarik perhatian untuk saya tulis, apalagi saya selalu terngiang-ngiang pesan Arswendo Atmowiloto, yang dia ungkapkan dalam salah satu bukunya, dan saya lupa judul bukunya. Beliau bercerita bahwa bila akan memulai menulis sesuatu baik berupa esai, cerpen, novel atau feature, dia akan menulisnya seakan-akan sedang membuat karya terbaik.

Beliau pun memberikan pesan kepada para pembacanya melalui buku itu, kalau akan menulis sebuah karya tulis bikinlah dengan usaha terbaik, buatlah karya terbaik. Tanpa saya sadari, pesan tersebut terpatri di benak saya dan akhirnya saya pun kadang pilih-pilih dalam menulis sesuatu hal. Walaupun begitu saya bukanlah seorang Arswendo, seiring dengan waktu sambil memikirkan pesan sang budayawan yang telah menghadap Sang Khalik itu. Saya memutuskan untuk membuat moto sendiri yaitu: buatlah tulisan yang memang layak dibaca, dan dipahami, tak perlu risau apakah akan dibaca atau tidak. Setidak-tidaknya saya telah membuat sebuah catatan atau meninggalkan jejak berupa tulisan yang memang untuk dibaca walaupun tidak ada yang membaca.

Terus... bila tulisan itu tidak ada yang membaca bagaimana? Tujuan menulis ada untuk dibaca, entah untuk diri sendiri atau pun untuk publik. Memang sedih bila sebuah tulisan yang kita bikin dengan susah payah ternyata tidak ada yang mengapresiasinya atau lebih parah lagi, tak ada yang membacanya. Ibaratnya tulisan kita hanyalah sebuah angin lalu yang terlewatkan begitu saja tanpa ada reaksi apapun.

Apalagi ketika sedang menulis di blog Steem atau Hive yang notabene memang penuh dengan kolusi, dan bukanlah tempat yang terlalu cocok untuk mengukur dan menentukan apakah sebuah karya tulis, sastra, seni, foto dan gambar itu adalah sebuah karya terbaik. Bahkan di dunia luar blokchain Steem atau Hive pun, jarang sekali menemukan tempat yang cocok untuk itu, karena masing-masing memiliki standar sendiri.

Sama halnya dengan Steem atau Hive, semua tergantung para selera para pemodal dan pemilik Steem Power yang ada di blockchain ini. Ned Scoot dan Dan Larimer selaku pendiri blockchain Steem dan web Steemit.com, memang sudah dari awal telah merancang bahwa para pemilik modallah yang mempunyai peranan dalam blockchain ini. Jadi sudah sewajarnya jika arah blockchain Steem atau Hive akan didominasi kebijakan para pemilik modal, sedangkan para pengguna biasa hanya bisa mengikuti kemana arah angin kebijaksanaan bertiup, suka atau tidak suka.

Semenjak masuknya Justin Sun yang menimbulkan polemik dan berujung perpecahan dengan para Old Witnesses sehingga melahirkan blockchain Hive, memang ada usaha-usaha untuk memperbaiki situasi di masing-masing sistem blockchain baik Steem maupun Hive. Di Steem, pihak Steemit telah berusaha membuat even-even seperti 100 Days of Steem sedangkan di Hive masih seperti biasa, sedikit perubahan dan masih didominasi oleh para Old Witnesses. Dalam hal pengembangan sistem blockchain dan aplikasi-aplikasi baru, kelihatannya Hive masih lebih semarak ketimbang Steem. Hal ini wajar karena sebagian besar developer Steem banyak yang beralih ke Hive.

Terus kemanakah arah blockchain Steem dan Hive, apakah nantinya bisa memenuhi mimpi dan cita-cita dari para pendirinya. Selain itu apakah blockchain ini nantinya bisa mengakomodir para penggunanya dan menjadikannya alat utama untuk berekspresi, bisakah bersaing dengan media sosial yang menganut sistem terdesentralisasi seperti Facebook, Twitter dan Instagram? Bisakah blockchain Steem atau Hive ini menjadi andalan sebagai media tempat berkarya bagi para penggunanya?(hpx)